Aku Nana aku memiliki hidup yang
sempurna dengan keluarga kecilku, tapi semua berubah saat kedua orang tuaku
memutuskan untuk berpisah…
Yaaa seperti
kita ketahui.. kebanyakan anak yang menjadi korbannya.. tapi itu tidak menjadi
masalah buatku yang menjadi masalah adalah orang itu…
dia adalah An…….
Malam itu dia
datang… datang dengan sejuta ambisi ingin membunuhku..
Oh ya? Bagaimana
aku tau dia ingin membunuhku?!
Aku tau karena
mata itu, ya mata itu menatapku dengan sangat menyeramkan….
“Oh Tuhan aku
lebih baik menjadi gila dari pada harus bertemu dengan dia”
An mengajakku untuk pergi bersamanya, dia
menggenggam seluruh pergelangan tanganku. Aku menjerit tapi dia hanya menatapku
dan tersenyum. Dia memaksaku masuk ke mobilnya.. malam itu sangat gelap aku
hanya melihat bentuk mobil CR-V berwarna hitam.
Sepanjang
jalan aku berpikir…. mau dibawa kemana aku? dia akan berbuat apa kepadaku?.
Dan
sampailah di suatu tempat dia memaksaku untuk turun dari mobil sambil
menodongkan sebuah pisau, aku lihat-lihat itu seperti pisau bedah yang selalu
di pakai di Rumah Sakit.
Aku
melihat sekeliling hanya ada pohon, suara-suara burung..
Aku
tidak yakin itu dimana tetapi melihat sekelilingnya membuatku ingin teriak!!!!
“Gelap sekali” pikirku.
Semakin lama semakin banyak pertanyaan yang
ada dipikiranku, “dia akan melakukan apa?”. Dia menuntun ku untuk masuk ke
sebuah Rumah lalu ke sebuah ruangan, ruangan itu sangat menyeramkan
tidak
ada pencahayaan sama sekali, sehingga aku harus mengikuti satu-satunya cahaya
senter yang dibawa oleh An.
Ketika
di bukanya pintu ruangan itu oleh An, aku sangat terkejut, aku melihat orang
yang tidak asing di kehidupanku.
dan dia adalah ayahku
”ayahhhhhhh!!!!!!”.Aku
menjerit dan menangis se jadi-jadinya.
Aku tak tau apa yang terjadi dengan Ayahku apa
dia koma atau bagaimana tapi aku lihat dia sangat tak berdaya, “Apa yang
terjadi dengan ayahku? Jawab aku An, apa yang kamu lakukan kepadanya”
Sontak
An menjawab, “berisik sekali kamu Nana?? Kamu jangan belaga kaget! Taukah kamu
ayahmu seperti ini karena apa? Ini semua karena perbuatanmu anak bodoh!”
Aku
terkejut dan aku tidak mengerti apa yang dia katakan, “hahaha pantas saja kamu
tidak ingat karena kamu telah hilang ingatan! Oke sekarang akan saya bantu
ingatkan kembali, ayahmu seperti ini karena perlakuan mu sendiri dan kamu harus
membayarnya!!”
Dia
terus berbicara dan aku semakin tidak mengerti apa yang dia katakan, “kamu rela
melihat ayahmu seperti ini? Kamu ingin melihat ayahmu seperti ini? Kalau tidak,
cepat donorkan hatimu”
aku tidak tau harus seperti apa ketika dia
berbicara seperti itu , tetapi aku yakin aku tidak bersalah. aku memang hilang
ingatan tetapi aku yakin aku tidak akan pernah menyakiti ayahku sendiri.
Aku
berkata kepada An ,”An aku yakin aku tidak melakukan apapun, aku yakin aku
tidak akan menyakiti ayahku sendiri walaupun aku hilang ingatan aku bukan orang
psycho sampai harus menyakiti ayahku” An hanya tersenyum sinis mendengar
perkataanku.
Lalu
dia berkata, “jelas kamu tidak merasa bersalah karena kamu tidak ingat,bodoh! sudah
jangan banyak bicara!! Jika kamu merasa bingung, aku akan membantumu untuk
mengambil keputusan!”
An
lalu menyuruh ferry untuk mengambil obat bius, dan ketika obat bius itu sudah
berada di tangan An. An langsung menyuntikkannya kepadaku.
Tetapi aku berusaha untuk menghempas obat itu.
Dan akhirnya obat bius itu jatuh
An langsung menamparku dan berkata, “sialan!
Anak bodoh kamu”
Akhirnya dia mengambil kembali suntikan
itu.
Aku
berusaha mencari cara untuk melarikan diri.
Akhirnya
aku memukul kepalanya dengan sebuah kursi yang ada disampingku.
Aku berhasil untuk melarikan diri tetapi An
menyuruh seseorang untuk mengejarku dia adalah Ferry, dan dia adalah sepupuku.
“Cepat
tangkap anak itu ferry!! jika dia melawan. Bunuh saja dia” mendengar perkataan
itu aku semakin takut dan berlari semakin kencang lagi untuk menjauhkan
jangkauanku dari ferry.
Ketika
sampai di suatu ruangan, “sial” ruangan itu tidak ada jalan dan hanya ada
sebuah jendela. Aku lihat ferry sudah semakin mendekat
“ferry
hentikan kamu bukan sosok seperti ayahmu, kamu itu saudaraku fer”
Ferry
hanya tersenyum sinis mendengar perkataanku
Aku
tau ini tidak akan berhasil
akhirnya
aku tidak punya pilihan lain sehingga aku melompati jendela itu. Sial lagi aku
dapatkan kaki ku tergores oleh paku yang ada disana
aku
merasa daerah kakiku sakit sekali…… dan benar saja darahku mengalir begitu deras tapi aku tak
ada waktu untuk mengobati luka itu.
aku harus bisa keluar dari tempat ini dan lari
sejauh mungkin apapun caranya
Sesekali aku melihat ke belakang, “Sial
! Ferry masih saja berusaha mengejarku” dengan jalan pincang aku berusaha untuk
terus berlari.
Di
depan aku melihat jalanan
dan
aku berusaha meminta tumpangan kepada pengendara mobil, “pak tolong bantu saya
ada orang yang mengejar saya”
bapak
itu terkejut melihatku dan dia langsung membantuku untuk masuk ke mobilnya dia
memacukan gas mobilnya dengan sangat cepat.
Dalam perjalanan dia bertanya ,” ada apa nak?
Kenapa kamu bisa sampai dikejar seperti itu?” aku menjawab sambil meneteskan
air mata, “ada seorang yang ingin sekali membunuh saya, dan dia adalah paman
saya sendiri”.
bapak
itu hanya diam mendengar penjelasanku, lalu dia melirik kearah kaki ku yang
terluka, “oke bagaimana kalau sekarang kamu ke rumah saya, lalu kamu bertemu
dengan anak saya, kebetulan dia adalah seorang dokter. Sehingga dia bisa
mengobati luka di kaki mu itu”
aku merasa itu adalah hal yang merepotkan jadi
aku hanya berkata ,”tidak perlu pak terima kasih, itu sangat merepotkan. saya
bisa mengobati luka saya sendiri” bapak itu berkata lagi, “tidak. Kamu harus
mengikuti perintah saya”
karena
tidak ada pilihan ,akhirnya aku mengangguk dengan isyarat setuju kalau aku akan
ke rumahnya…………
aku
membuka kaca mobil terdengar adanya hembusan angin yang sangat kencang dan beberapa
pohon yang melambai-lambai aku melihat suasana sekarang kejam sekali, karena
begitu indahnya dan tidak melihat aku yang sedang terkena musibah.. dalam
hatiku berharap kalau semua ini akan berakhir.
Aku
pun berpikir terus, mengapa Pamanku sendiri tega melakukan itu kepadaku?
mengapa dia ingin sekali membunuhku? Apa salahku sehingga dia mempunyai dendam
begitu besar?.
tiba-tiba
kepalaku sangat sakit. Rasanya kepalaku telah terbakar, semua pandangan menjadi
kabur. “ Arghhh…. apa yang terjadi mengapa kepalaku pusing sekali”.
Tidak lama kemudian aku sampai di rumah bapak
itu, dia membantuku untuk turun dari mobil lalu berteriak, “Roni, Roni!!” terlihat
seorang pria mengenakan jas putih dengan cepat menuruni tangga, “Astaga!! Apa
yang terjadi dengan dia?” bapak itu berkata ,”sudah jangan banyak Tanya! Cepat
kamu tolong dia”
Roni
akhirnya segera menolongku dan mengobati luka di kaki ku. dia berkata,”Aku
harus menjahit luka mu, jika kamu merasakan sakit cobalah untuk di tahan” aku hanya
mengangguk
aku
lihat Roni sangat iba dengan keadaanku yang merintih kesakitan
Setelah
selesai mengobati lukanya dia mengantarku untuk istirahat di salah satu kamar
di rumah itu.
“Akhirnya
aku bisa istirahat” pikirku
Aku
mengucapkan terima kasih kepadanya, dan dia membalasnya dengan senyuman sambil
keluar dari kamar itu.
Aku
merasa hari ini sangat berat.
sambil berbaring sambil terpikirkan olehku
kejadian hari ini dan tidak terasa aku pun mulai tertidur
Keesokan
harinya, aku terbangun dan aku keluar dari kamar itu
Aku melihat Roni mempersiapkan beberapa
makanan, aku datang menghampirinya,” sini biarku bantu” Roni tersenyum lalu
menjawab,”sudah tidak perlu.. kamu istirahat saja aku yang akan mempersiapkan
semuanya”.
aku
berkata kembali ,” oke lah.. oh ya yang kemarin itu ayahmu? sekarang dia kemana
ya? Aku tidak lihat? Aku ingin mengucapkan terima kasih kepadanya”
Roni memberhentikan kegiatannya lalu menatapku,”iyah
dia ayahku, dia sudah pergi bekerja kalau tidak salah sekarang dia ada urusan
untuk pergi ke China. Bagaiman keadaanmu? Sudah membaik?”
dengan senyuman manis aku menjawab, “hmmm..
keadaanku sudah membaik, ini semua berkat pertolonganmu.. oh iyah terima kasih
atas bantuan mu semalam”
lagi
dan lagi dia hanya tersenyum.
Dan
saat itu aku ber janji suatu saat aku akan membalas jasanya kepadaku.
Tiba-tiba dia bertanya,”dimana rumahmu? Aku
akan antar kebetulan hari ini aku dapat cuti dari Rumah Sakit” aku mengalihkan
pandanganku,”aku tinggal di taman sari”
dia
lalu berkata lagi,”oh kalau gitu sehabis ini aku antar ke rumahmu, hmm kalau orang
tua mu kemana?” mendengar itu aku langsung diam menatapnya kembali seraya
berkata,”ayahku telah koma beberapa tahun ini, ibuku dia seorang duta besar dan
dia sekarang berada di Jepang”
mendengar
itu dia meminta maaf kepadaku aku melihat dari wajahnya ada bentuk penyesalan.
Dan
Aku hanya diam mendengarnya.
,”Yasudah
kita makan dulu , kalau sudah selesai, kamu bersiap-siap aku sudah menyiapkan
beberapa peralatan untuk kamu membersihkan diri”
“terima
kasih Ron” ucapku
Akhirnya
setelah selesai makan aku bersiap-siap untuk pulang ke rumah
Roni
akhirnya mengantarku untuk pulang
Dan ketika berada di jalan aku melihat mobil An
yang dipakai untuk menculikku waktu itu. Iyah tidak salah lagi mobil CR-V
berwarna hitam .
Sontak
aku berkata pada Roni, “Roni tolong putar balik mobilnya!” melihat aku sangat
gelisah tanpa pikir panjang Roni memutar mobilnya, “kenapa?” aku menjawab,
“disana ada orang jahat dia pamanku namanya An, dia ingin membunuhku dan dia
ingin mengambil hatiku” Roni langsung terkejut dan memacu mobilnya dengan
sangat cepat.
Sesampainya
dirumah, Roni berkata,”untuk sementara waktu kamu disini saja dulu sampai
keadaan aman”
ketika itu aku tidak dapat membendung air
mata, dan akhirnya aku menangis dihadapannya dia menenangkanku lalu berkata
kalau semuanya akan baik-baik saja dan dia juga berjanji untuk menjagaku.
Tiba-tiba
dia berkata,”kenapa kamu tidak telepon mamahmu saja?”
mendengar
itu aku tersenyum sinis,” utuk apa? Untuk apa aku menelepon dia? dia tak akan
peduli, dia disana sudah menikah lagi dengan pria Jepang dia sudah memiliki
kehidupan baru, dia sama sekali tidak ingat kepadaku.. yang bisa dia lakukan
hanya mengirim uang tapi tidak dengan mengirim kasih sayang, cinta dan
perhatian”
dia
diam mendengar jawabanku lalu pergi mengambil segelas air dan lagi-lagi dia
terus berkata ,”semua akan baik-baik saja”
aku
tidak yakin yang dia katakan, apa benar semua akan baik-baik saja
Seketika
kepalaku kembali sakit “Argghh ini saat yang tidak tepat untuk sakit kepala”
tapi tunggu…
Aku
melihat ada bayangan… ya bayangan itu seperti sungai dan tiba-tiba aku terjatuh
ke dalamnya. Semakin aku paksakan semakin kabur bayangan itu…
Ahh
apa aku mulai berhalusinasi lagi, pikirku
melihat
aku kesakitan Roni sangat panik dan tiba tiba aku tidak sadarkan diri…
ketika
aku membuka mata, aku melihat dia disampingku.. dia langsung bertanya,”apa kamu
mengalami hilang ingatan?”. Aku hanya mengangguk karena rasanya sulit sekali
tubuhku ini untuk di gerakkan
Dengan
segera dia menuntunku masuk ke mobil
dia memacu mobilnya dengan sangat kencang dan sampailah
di sebuah Rumah Sakit.
Aku
dengar dia berteriak,”suster tolong bantu, suster!!!” akhirnya aku dibawa masuk
ke sebuah ruangan, saat itu kepalaku semakin sakit dan aku mulai tidak sadarkan
diri lagi.
Aku
mulai membuka mataku, dan aku melihat Roni sedang berbicara dengan dokter,”terima
kasih pak atas bantuannya” dokter itu menjawab,” ah kamu kaya ke siapa aja ron”
lalu dokter itu pergi
Roni
berjalan ke arahku.
Aku
bertanya , “apa yang terjadi?” Roni menjawab,”tidak apa-apa kamu hanya terlalu
banyak pikiran, sebaiknya untuk saat ini kamu istirahatlah dengan baik”.
Beberapa
hari berlalu, akhirnya aku keluar dari Rumah Sakit itu dan Roni mengantarku
kembali kerumahnya dengan alasan aku masih butuh penjagaan seorang dokter.
Saat
berada di jalan aku teringat sesuatu,”Na tolong bantu Ayah untuk menjaga
dokumen yang ada di laci lemari, ayah hanya percaya padamu”
Dengan
cepat aku berkata pada Roni,”Roni turunkan aku” dia tidak setuju dan dia malah
memacu mobilnya lebih keras lagi. ,”tolong Roni turunkan aku, ada hal yang
harus aku selesaikan.. aku mohon.. kamu telah banyak membantuku” akhirnya
dengan terpaksa dia menurunkanku di tengah jalan
Aku
ingat jalan ini tidak jauh dari rumahku, akhirnya aku berlari.
aku tidak yakin dengan apa yang aku lakukan
ini karena aku hanya mempunyai modal nekat dan keberanian
aku
lihat di depan rumahku aman, tidak ada roni maupun ferry disana
dengan
cepat aku masuk ke rumah dan ketika aku menemukan dokumennya. aku melihat An
sedang duduk di pinggir pintu kamar ,”hebat nana kamu hebat sekali! Kamu pikir
kamu bisa lari dariku?”.
aku menjerit tetapi dia langsung menyuruh Ferry
untuk mengikatku dan menutup mulutku
Tiba-tiba
dia menamparku ,”kamu pikir aku bodoh nana? Semudah itu kamu lari dariku?
HAHAHA”
lalu dia menggoreskan selembar kertas yang
sangat tajam ke bekas luka ketika aku jatuh
Aku
menangis merintih kesakitan, An menghapus air mataku dan berkata ,”anak bodoh,
kamu tidak perlu nangis.karena ini masih awal jika awal saja kamu sudah
menangis sungguh ini sangat tidak menarik lagi Hahaha”
aku
menggeram marah dan aku menjauhkan wajahku dari tangan menjijikan itu
Tiba-tiba
aku mendengar sirine polisi datang
An
terkejut ,”ahh sial anak ini!!Nana kamu memanggil polisi?!” An dan Ferry lekas
pergi dengan terburu-buru lalu meninggalkanku melewati pintu belakang,
Ketika
dia sedang berlari, polisi itu menembak kaki An dan kaki Ferry.
Kedatangan
polisi itu beriringan dengan datangnya Roni
Dengan
cepat dia melangkahkan kakinya ke arahku, “maaf karena sudah terlambat”
aku
hanya menangis di hadapannya, dia langsung memelukku.
seketika
aku merasa kepalaku sakit sekali , lalu dalam kesakitan itu aku mulai tidak
sadarkan diri lagi dan lagi
tetapi
bayangan itu muncul kembali!
Ya
bayangan jatuhnya aku ke sungai..
bayangan itu sudah lebih jelas
aku melihat sebuah tangan, tangan yang tidak
asing
aku
juga melihat sebuah cincin , iya itu adalah cincin yang sama yang dipakai oleh An.
Semakin dalam aku melihat semakin tergambarkan tangan dan cincin itu.
Dan
Tiba-tiba Aku terbangun dengan nafas yang sangat sesak!
Aku
melihat sekeliling ada infus di sampingku dan juga aku melihat ada Roni disana,”kamu
kenapa?” Tanya Roni
,”aku
ingat Ron aku ingat siapa yang telah mendorongku jatuh ke sungai” ucapku
,”memang
siapa yang telah menjatuhkanmu?” Roni menegaskan suaranya,
dengan
pasti aku menjawab ,”dia adalah An aku sangat yakin dia adalah An” dengan cepat
Roni membawa jaketnya dan pergi, aku tidak yakin apa yang akan dia lakukan tapi
semoga dia tidak melakukan hal yang buruk.
Tidak
lama Roni pergi, aku melihat mamahku.
Aku
tidak yakin kalau itu memang dia, karena memang akhir-akhir ini aku telah
banyak berhalusinasi
Tetapi
akhirnya bayangan itu semakin mendekat dan semakin mendekat
lalu
berkata ,”maafkan mamah na, mamah gagal menjadi mamah yang baik buat kamu” aku
hanya meneteskan air mata dan diam ,”ini mamah na, mamah sangat merindukanmu”
aku
menangis lagi aku rasa air mata ini tidak akan berhenti, dan aku melihat
mamahku juga menangis
”mamah
kenapa sih jahat ke nana? Nana salah apa sama mamah? Kenapa mamah ninggalin
nana gitu aja? mamah gak tau?! om An hampir saja membunuh nana, mamah sangat
terlambat”
dia
langsung menjawab, “mamah memang salah karena telah menelantarkan anak mamah
yang paling cantik. mamah tau mamah tidak pantas dimaafkan tapi tolong biarkan mamah
merawatmu na dan belajar menjadi mamah yang baik buat kamu!”
aku
tidak yakin apa yang mamahku ucapkan, aku bertanya lagi ,”tapi bagimana suami mamah disana?”
“ mamah sudah meninggalkannya karena dia tidak
bisa menerimamu, mamah lebih baik kehilangan dia daripada harus kehilangan
putri mamah yang paling mamah sayangi maafkan mamah karena mamah baru sadara
saat ini”
aku
tidak bisa banyak berkata aku langsung memeluk mamahku dan dia langsung mencium
keningku, “mulai saat ini apapun yang terjadi kita akan selalu bersama-sama,
mamah akan sellau di sampingmu na”
tidak lama kemudian aku melihat Roni datang
,”dari mana saja kamu ron?” ucapku, dia hanya menjawab ,”aku telah membalas
perbuatan An untukmu”
aku
hanya tersenyum mendengarnya dan ibuku berkata ,”berterima kasihlah kamu kepada
Roni, karena dia yang telah memberitahu mamah bagaimana keadaanmu” aku langsung
berkata,”oh gitu? Wah terima kasih ya.. tapi gimana caranya kamu kasih tau
mamahku? Dan juga kamu ko bisa ada disana sih pas kemarin?”
Dia menjawab ,”aku khawatir sama kamu jadi aku
diam-diam mengikutimu, dan aku mendengar kamu berteriak, aku tau ada yang tidak
beres tapi aku juga tidak bisa masuk sendirian jadi aku telepon polisi”
lanjutnya ,”hmm kalau soal ibumu karena kamu buru-buru turun dari mobil saat
itu kamu meninggalkan hp mu di mobil jadi aku mencari nomor keluargamu dan
akhirnya ada nomor ibumu”
”wah kamu hebat juga” ucapku.
dia
lalu tersenyum,”yaudah aku pamit dulu ya bu, Na ada pasien yang harus aku
pantau sebentar”.
Beberapa
saat kemudian aku melihat di berita telah ada penangkapan penjualan organ
manusia
aku
melihat tersangkanya sangat tidak asing bagiku.
lantas
aku bertanya pada mamahku ,”mah apa yang di tangkap itu An? Itu wajahnya
sepertinya mirip” dan mamahku menjawab, “iyah dia itu An dan dia juga akan di
hukum atas tindak pidana percobaan pembunuhan kepadamu” ,”dari mana polisi
mendapatkan buktinya?” ucapku.
ibu langsung menjawab ,”itu dokumen yang ada
di rumah waktu kemarin kamu di sekap. Merupakan bukti tentang kejahatannya”
aku terkejut, dan teringat ,”Bu ayah mana? Aku
lihat ayah koma di sebuah rumah”
ibu langsung menatapku dan meneteskan air
mata,”maaf na, ayahmu telah tiada. An telah mengambil organ hatinya”
pandanganku
kabur seketika aku menangis sejadi-jadinya.. ini semua hanya mimpi kan???!!!!
,”tidak mungkin bu terakhir kali aku lihat ayah masih koma, lagian ayah sudah
berjanji tidak akan meninggalkanku” aku menangis terus aku tidak habis pikir
kepadanya
Aku
rasa aku ingin meledakan An saat itu juga..
Mamahku
berkata ”maafkan mamah karena telah meninggalkan kalian, mamah sangat menyesal,
maafkan mamah juga karena mamah kamu mempunyai paman seperti An”
”bukan
mah ini bukan salah mamah, jelas ini salah pria jahat itu… mah aku ingin pergi
ke makam ayah”
tiba-tiba Roni datang ,”aku antar” aku
menatapnya,”terima kasih Ron aku sudah sangat merepotkanmu terima kasih telah
membantuku” roni menjawab,” apa saja demi cinta pertama”
“hah apa maksudnya itu?”.pikirku
Dia melihatku dan memandangi mimik mukaku yang
penuh dengan tanda tanya.
dia
meneruskan perkataannya ,”apa kamu tidak pernah bertanya-tanya mengapa aku
tidak pernah menanyakan namamu? karena
aku sudah tau namamu adalah Nana Putri kan? Kamu adalah Nana cinta pertamaku. Aku
mengetahui kamu sudah sejak lama, dan aku juga menyukai kamu sejak lama, tetapi
aku tidak mau mengakuinya karena aku sangat malu kamu akan menolak. dan juga, setiap
aku ingin menyatakan perasaanku selalu ada orang lain yang mendahului, jadi aku
selalu kalah saing”
aku
tersenyum mendengar ceritanya.. tidak ku sangka Roni sudah menyukaiku sejak
dulu.
sambil
berjalan dia meneruskan perkataanya lagi ,” ini pemakaman ayahmu”
melihat batu nisan nama ayahku aku langsung berharap
kalau ini semua hanya mimpi, aku harap kalau ini semua tidak pernah terjadi,
aku harap ayahku masih disini tersenyum kepadaku tapi apa? Ini sangat mustahil!
sekarang
aku hanya bisa berkata. ,”yah maafin nana karena belum bisa jadi anak yang baik
buat ayah, nana sayang sekali sama ayah, nana harap ayah tenang disana dan
Allah akan selalu menjaga ayah, Nana akan selalu berdoa untuk ayah”
tiba-tiba Roni berkata ,”Om roni akan selalu
menjaga Nana, Roni mau minta restu sama Om untuk bersama Nana , Roni janji
tidak akan pernah menyakiti Nana”
aku
tersenyum saat itu perasaanku sangat tidak karuan aku sedih dan juga aku
bersyukur karena ada seseorang seperti Roni di kehidupanku, setidaknya dia
sudah membuat hidupku lebih baik dari sebelumnya,”ayah tenang disana ya, kata
Roni, Roni akan selalu jagain Nana.. jadi ayah harus senyum di surga”
akhirnya
aku dan Roni kembali ke rumah sakit
Roni tiba-tiba meminta restu kepada ibu ,”bu ?
bolehkah Nana menjadi bagian dari hidu Roni? ” ibu hanya berkata ,”kamu anak
yang baik, ibu senang Nana mendapatkan penjaga seperti kamu”
akhirnya
kami berdua menjalani hidup dengan bahagia dan sederhana.
Hmmm yang terjadi dengan An……….
Yah
dia telah mendapatkan hukuman yang setimpal bagi kehidupannya yaitu dipenjara
seumur hidup, walaupun itu sangat tidak cukup untukku tapi aku percaya Tuhan
akan membalasnya lebih dari ini….
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar